You are currently viewing KUNJUNGAN UNIVERSITY OF HYOGO KE DSSJ BINAAN UNIMUS
Prof. Achir Yani memperkenalkan tamu kepada para kader DSSJ

KUNJUNGAN UNIVERSITY OF HYOGO KE DSSJ BINAAN UNIMUS

Tamu dari UI dan University of Hyogo didampingi Lurah Desa Banyuroto, Dekan FIKKES dan Pembina DSSJ

Unimus | Magelang| (Rabu, 03/03/2016) Para mahasiswa University of Hyogo, Jepang, yang sedang mengambil program Doktoral dengan konsentrasi “Disaster nursing global leader programme” didampingi Guru Besar Universitas Indonesia (Prof. Achir Yani S. Hamid, DNSc.) dan dosen keperawatan komunitas (Dr. Sigit Mulyono, SKp., MN.) melakukan kunjungan ke Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) binaan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Para rombongan tamu diterima oleh Lurah Desa Banyuroto (Yanto), para kader DSSJ dan didampingi oleh Dekan FIKKES (Edy Soesanto, SKp., M.Kes.), Pembina DSSJ (Ns. M. Fatkhul Mubin, Sp.Kep.Ji.) dan perwakilan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah (Ns. Supriyadi, S.Kep.).

Melalui kunjungan ini para mahasiswa tersebut hendak melakukan studi banding mengenai sistem penanganan bencana dan model pengelolaan DSSJ oleh kader kesehatan jiwa (KKJ) sesuai dengan program yang sedang mereka ambil. Sebelumnya mereka juga telah melakukan kunjungan serupa ke Aceh yang juga telah mengalami hal serupa dan sekarang telah berkembang dengan metode penanganan bencana serta ketersediaan perawat jiwa komunitas di tiap Puskesmasnya, seperti yang disampaikan Prof. Achir Yani di sela-sela memperkenalkan tamu di hadapan para kader DSSJ. Jepang merupakan negara dengan kondisi geografis yang hampir sama dengan Indonesia, begitu pula dengan banyaknya jumlah gunung berapi dan kejadian bencananya. Sehingga dengan melakukan studi banding ini, mereka diharapkan akan kembali ke Jepang dengan mengadop dan mengembangkan sistem yang sama dengan yang telah digunakan di Indonesia.

Prof. Achir Yani memperkenalkan tamu kepada para kader DSSJ

DSSJ Desa Banyuroto telah terbentuk semenjak tahun 2010 tepatnya ketika terjadi kejadian erupsi Gunung Merapi. Pada saat itu banyak sukarelawan yang diterjunkan ke daerah pengungsian, salah satunya adalah rombongan dosen dan mahasiswa keperawatan Unimus yang mendapat tanggungjawab untuk mengelola Desa Banyuroto. Sejak saat itu maka Unimus mulai mengembangkan dan melakukan pembinaan terhadap desa tersebut hingga terbentuklah DSSJ Desa Banyuroto dan kemudian dikembangkan pula di Dusun Kenayan dan Dusun Garon dengan jumlah keseluruhan kader mencapai 80 orang. Hingga saat ini, DSSJ masih aktif dengan aktivitas rutin para kader sesuai program yang direncanakan. Kegiatan tersebut mendapat perhatian penuh dari Lurah, pihak Puskesmas Kecamatan Sawangan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Monitoring dan evaluasi selain dilakukan oleh Unimus juga dibantu oleh pihak RSJ Magelang, dan Universitas Muhammadiyah Magelang. Kedepan diharapkan Unimus akan mengembangkan pembinaan ke sektor ekonomi dan pariwisata bagi masyarakat desa dengan mengajarkan pengelolaan hasil panen dan pengelolaan agrowisata yang menjadi keunggulaan desa tersebut.

Berfoto bersama para kader DSSJ Desa Banyuroto
Para tamu dari UI, PPNI dan Jepang bersama Lurah, Ketua kader, dan Dekan FIKKES

(Rep. : UPT Humas & JIPC)